Bagaimana Melihat dan Mengontrol Manusia
Banyak yang tau kalo saya adalah member di forum AP. Di sana banyak orang yang baik, mostly malah. Dari awal saya tau tidak bisa memberikan identitas terang2an dan tidak bisa memberikan email yang selama ini saya pakai di dunia nyata. Kenapa? Karena saya belajar dari pengalaman :)
Lalu setelah berkenalan dan berteman dengan banyak teman, ada beberapa orang yang saya berikan password saya di forum itu, bahkan orang2 yang sama saya berikan juga password email saya. Tentu saja saya memberikan itu semua bukan karena ingin dilihat sebagai orang baik atau orang bodoh. Tapi karena saya juga ingin melihat sejauh mana orang bisa memegang kepercayaan yang saya berikan. Lagipula saya memberikan password tersebut tidak sekaligus, untuk memperbesar kemungkinan siapa2 yang akan mengecek email saya, siapa2 yang akan memakai account saya di forum tersebut, dan siapa2 yang akan menyalahgunakan email saya.
Setelah setaun lebih, semuanya aman2. Akhirnya saya berikan password saya kepada seseorang. Belum ada seminggu, dia sudah mulai membua thread di forum tersebut menggunakan nickname saya. Melihat kejadian itu saya tertawa terbahak2. Ternyata behaviour manusia itu bisa ditebak, dianalisa, bahkan bisa dimanipulasi arahnya ke mana. Setelah beberapa waktu kemudian, saya ubah password saya di AP. Dengan harapan apakah kejadian ini akan membuat dia belajar (dan tidak lupa membiarkan password saya di email tetap sama). Ternyata tidak.
Kenapa saya tau? Karena ternyata ada account di Facebook menggunakan email saya. Ini mengingatkan saya sewaktu di kampus, menggunakan beberapa binatang untuk specimen atau experimen mengenai behavior atau tingkah laku mereka. Seperti sudah dibuktikan sebelumnya oleh banyak para experts, animals' behaviors of course tend to create a same pattern. Ternyata teman saya ini -no hard feeling- membuktikan bahwa behaviornya juga bisa ditebak, dianalisa, dan dimanipulasi.
And so on, and so on. Tentu saya percaya bahwa dia tidak ada maksud jelek terhadap saya. Toh dari awal isi email dan semua isi account saya di AP tidak ada yang bersifat confidential. Bahkan pembicaraan2 saya dengan orang2 lain di YM saya pun tidak ada yang confidential. Cuma saya membayangkan, mungkin orang ini sedang happy atau puas karena bisa membuat sesuatu memakai identitas saya tanpa sepengetahuan saya. Sayang sekali, saya meruntuhkan kebahagiaannya sekarang.
Ini cuma kasus sederhana. Dulu saya pernah memberi credit card saya kepada 2-3 orang teman, untuk melihat hal yang sama apakah orang2 akan memegang kepercayaan yang saya berikan. 1-2 orang cukup menahan diri untuk tidak memakai credit card saya, tapi tidak dengan 1 orang. Mungkin karena credit card tersebut sudah ada ditangannya, dia berpikir bahwa dia bisa berbuat apa saja. Dia lupa bahwa beberapa kartu kredit memiliki proteksi tertentu, bahkan walaupun setelah kartu tersebut sudah dipakai dan barang2 belanjaan sudah didapatkan. Make a story short, dia terpaksa mengembalikan semua barang2 tersebut otherwise harus berurusan dengan pihak berwenang. Ketika saya ditanya apakah saya akan memproses ini secara hukum, saya lihat wajah dia sudah berkeringat dan pucat. Saya tersenyum dan bilang "Tentu saja tidak." Karena saya tau, dia adalah victim dari permainan saya, walaupun mungkin saat itu dia berpikir bahwa saya adalah victim dari permainan dia.
Lalu setelah berkenalan dan berteman dengan banyak teman, ada beberapa orang yang saya berikan password saya di forum itu, bahkan orang2 yang sama saya berikan juga password email saya. Tentu saja saya memberikan itu semua bukan karena ingin dilihat sebagai orang baik atau orang bodoh. Tapi karena saya juga ingin melihat sejauh mana orang bisa memegang kepercayaan yang saya berikan. Lagipula saya memberikan password tersebut tidak sekaligus, untuk memperbesar kemungkinan siapa2 yang akan mengecek email saya, siapa2 yang akan memakai account saya di forum tersebut, dan siapa2 yang akan menyalahgunakan email saya.
Setelah setaun lebih, semuanya aman2. Akhirnya saya berikan password saya kepada seseorang. Belum ada seminggu, dia sudah mulai membua thread di forum tersebut menggunakan nickname saya. Melihat kejadian itu saya tertawa terbahak2. Ternyata behaviour manusia itu bisa ditebak, dianalisa, bahkan bisa dimanipulasi arahnya ke mana. Setelah beberapa waktu kemudian, saya ubah password saya di AP. Dengan harapan apakah kejadian ini akan membuat dia belajar (dan tidak lupa membiarkan password saya di email tetap sama). Ternyata tidak.
Kenapa saya tau? Karena ternyata ada account di Facebook menggunakan email saya. Ini mengingatkan saya sewaktu di kampus, menggunakan beberapa binatang untuk specimen atau experimen mengenai behavior atau tingkah laku mereka. Seperti sudah dibuktikan sebelumnya oleh banyak para experts, animals' behaviors of course tend to create a same pattern. Ternyata teman saya ini -no hard feeling- membuktikan bahwa behaviornya juga bisa ditebak, dianalisa, dan dimanipulasi.
And so on, and so on. Tentu saya percaya bahwa dia tidak ada maksud jelek terhadap saya. Toh dari awal isi email dan semua isi account saya di AP tidak ada yang bersifat confidential. Bahkan pembicaraan2 saya dengan orang2 lain di YM saya pun tidak ada yang confidential. Cuma saya membayangkan, mungkin orang ini sedang happy atau puas karena bisa membuat sesuatu memakai identitas saya tanpa sepengetahuan saya. Sayang sekali, saya meruntuhkan kebahagiaannya sekarang.
Ini cuma kasus sederhana. Dulu saya pernah memberi credit card saya kepada 2-3 orang teman, untuk melihat hal yang sama apakah orang2 akan memegang kepercayaan yang saya berikan. 1-2 orang cukup menahan diri untuk tidak memakai credit card saya, tapi tidak dengan 1 orang. Mungkin karena credit card tersebut sudah ada ditangannya, dia berpikir bahwa dia bisa berbuat apa saja. Dia lupa bahwa beberapa kartu kredit memiliki proteksi tertentu, bahkan walaupun setelah kartu tersebut sudah dipakai dan barang2 belanjaan sudah didapatkan. Make a story short, dia terpaksa mengembalikan semua barang2 tersebut otherwise harus berurusan dengan pihak berwenang. Ketika saya ditanya apakah saya akan memproses ini secara hukum, saya lihat wajah dia sudah berkeringat dan pucat. Saya tersenyum dan bilang "Tentu saja tidak." Karena saya tau, dia adalah victim dari permainan saya, walaupun mungkin saat itu dia berpikir bahwa saya adalah victim dari permainan dia.