my bread is plain. bring me your jelly.
plainbread.easyjournal.com
March 2009
SuMoTuWeThFrSa
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031    

Powered by Easyjournal
 
Bigtown,  United States
Self-conscious? Huh!
3.1.2009
Bagaimana Melihat dan Mengontrol Manusia
Banyak yang tau kalo saya adalah member di forum AP. Di sana banyak orang yang baik, mostly malah. Dari awal saya tau tidak bisa memberikan identitas terang2an dan tidak bisa memberikan email yang selama ini saya pakai di dunia nyata. Kenapa? Karena saya belajar dari pengalaman :)

Lalu setelah berkenalan dan berteman dengan banyak teman, ada beberapa orang yang saya berikan password saya di forum itu, bahkan orang2 yang sama saya berikan juga password email saya. Tentu saja saya memberikan itu semua bukan karena ingin dilihat sebagai orang baik atau orang bodoh. Tapi karena saya juga ingin melihat sejauh mana orang bisa memegang kepercayaan yang saya berikan. Lagipula saya memberikan password tersebut tidak sekaligus, untuk memperbesar kemungkinan siapa2 yang akan mengecek email saya, siapa2 yang akan memakai account saya di forum tersebut, dan siapa2 yang akan menyalahgunakan email saya.

Setelah setaun lebih, semuanya aman2. Akhirnya saya berikan password saya kepada seseorang. Belum ada seminggu, dia sudah mulai membua thread di forum tersebut menggunakan nickname saya. Melihat kejadian itu saya tertawa terbahak2. Ternyata behaviour manusia itu bisa ditebak, dianalisa, bahkan bisa dimanipulasi arahnya ke mana. Setelah beberapa waktu kemudian, saya ubah password saya di AP. Dengan harapan apakah kejadian ini akan membuat dia belajar (dan tidak lupa membiarkan password saya di email tetap sama). Ternyata tidak.

Kenapa saya tau? Karena ternyata ada account di Facebook menggunakan email saya. Ini mengingatkan saya sewaktu di kampus, menggunakan beberapa binatang untuk specimen atau experimen mengenai behavior atau tingkah laku mereka. Seperti sudah dibuktikan sebelumnya oleh banyak para experts, animals' behaviors of course tend to create a same pattern. Ternyata teman saya ini -no hard feeling- membuktikan bahwa behaviornya juga bisa ditebak, dianalisa, dan dimanipulasi.

And so on, and so on. Tentu saya percaya bahwa dia tidak ada maksud jelek terhadap saya. Toh dari awal isi email dan semua isi account saya di AP tidak ada yang bersifat confidential. Bahkan pembicaraan2 saya dengan orang2 lain di YM saya pun tidak ada yang confidential. Cuma saya membayangkan, mungkin orang ini sedang happy atau puas karena bisa membuat sesuatu memakai identitas saya tanpa sepengetahuan saya. Sayang sekali, saya meruntuhkan kebahagiaannya sekarang.

Ini cuma kasus sederhana. Dulu saya pernah memberi credit card saya kepada 2-3 orang teman, untuk melihat hal yang sama apakah orang2 akan memegang kepercayaan yang saya berikan. 1-2 orang cukup menahan diri untuk tidak memakai credit card saya, tapi tidak dengan 1 orang. Mungkin karena credit card tersebut sudah ada ditangannya, dia berpikir bahwa dia bisa berbuat apa saja. Dia lupa bahwa beberapa kartu kredit memiliki proteksi tertentu, bahkan walaupun setelah kartu tersebut sudah dipakai dan barang2 belanjaan sudah didapatkan. Make a story short, dia terpaksa mengembalikan semua barang2 tersebut otherwise harus berurusan dengan pihak berwenang. Ketika saya ditanya apakah saya akan memproses ini secara hukum, saya lihat wajah dia sudah berkeringat dan pucat. Saya tersenyum dan bilang "Tentu saja tidak." Karena saya tau, dia adalah victim dari permainan saya, walaupun mungkin saat itu dia berpikir bahwa saya adalah victim dari permainan dia.
2.21.2009
Empathy
Beberapa hari belangan ini lumayan sibuk, mata gue sampe bengkak karena ngetik dan edit lebih dari lima ratusan halaman proyek kerjaan gue yang terakhir. Untungnya banyak yang baik mau nolongin, termasuk pijitin gue :)

Anyway, tadi pagi gue ditelpon sama bekas bos. Dia minta tolong gue untuk jadi konselor. Gue pikir OK deh, gue bisa kok. Tapi ternyata gue harus dateng ke penjara imigrasi, karena ada seorang tahanan di sana yang mencoba bunuh diri. Gue jadi bingung, gimana bisa seorang tahanan bunuh diri kalo alat pendukungnya gak ada? Tapi yah sudahlah, pasti ada cerita yang gue gak tau.

So gue ketemu sama orangnya. Dan voila! Orang Indonesia. Kita berdua ngobrol lama, dan gak perlu pake bahasa Inggris biar orangnya bisa bebas cerita apa aja yang dia rasain dan pikirin. Lumayan lama sih, dua jam. Gue jadi sedih, gimana kalo gue di posisi dia? Punya anak punya istri, status gak jelas, kerjaan gak ada, ditahan di penjara, no wonder dia coba mau bunuh diri. He can't handle it anymore.

Begitu selesai ngobrol sama dia, gue minta alamat dia supaya bisa ketemu sama anak istrinya. Pengen ngobrol sama mereka juga, setidaknya mereka pasti seneng dikunjungin sama sesama orang Indonesia yang lain. Pas gue lagi nge-drive, bekas bos gue yang nyuruh gue dateng nelpon. Gue bilang sama dia "I'm driving now, can I call you back?" Karena ada peraturan baru di state ini gak boleh pick up cell phone kalo lagi nyetir. Tapi dia bilang, "No, it'll be quick. How do you want me to pay you, mailing you a check or direct deposit? Do you still have the same bank account?" Gue bilang, "No, I don't allow you to do this. He's Indonesian. Now I feel obligated to help him without any condition." Dia nyahut lagi "Are you sure?" Gue jawab aja, "If I hang up the phone, that means I'm absolutely sure." Trus gue tutup telponnya.

Sampe di rumah orang Indonesia yang gue ceritain di atas, ternyata istri dan anak-anaknya kebetulan lagi ada di situ. Ngobrol sama mereka, bahkan baik sampe disuruh makan bareng mereka. Ceritanya makin sedih, tapi pada saat yang sama gue seneng ngeliat mereka seneng bisa cerita.

Soal inti cerita mereka, I'll just keep it to myself. Intinya sih cuma satu. Hal kaya begini bikin gue ngerasa kalo duit itu gak ada harganya. Kalo kata enyak gue, "duit gak elu bawa mati."

She's right.